Ads 468x60px

Selasa, 28 Februari 2012

Jadikan Uang Saku sebagai Media Melatih Tanggung Jawab Anak


Uang saku ternyata bukan hanya membuat anak merasa kenyang, namun juga membuat anak dapat belajar bertanggung jawab. Melalui uang saku anak akan belajar mengukur kemampuan dengan menyesuaikan antara uang yang ada dengan barang yang ingin dipenuhinya, selanjutnya anak akan belajar mengatur prioritas, dan membeli sesuatu yang memang benar-benar dibutuhkan saja, disinilah saat dimana anak dapat belajar untuk bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, apa yang dimilikinya, dan apa yang menjadi pilihannya. Hmm…ternyata banyak hal dapat dipelajari anak melalui uang saku, lantas bagaimana caranya agar kita bisa memberikan uang saku dengan tepat pada anak? Berikut beberapa tips yang bisa diikuti :
1.       Atur periode pemberian uang saku dengan konsisten (bisa perhari, perminggu, perduaminggu, atau perbulan). Sesuaikan dengan usia anak, semakin besar anak akan semakin bagus jika periode pemberian uang saku lebih panjang.
2.       Uang saku yang diberikan akan lebih baik jika mencakup semua kebutuhan anak, baik di sekolah maupun di rumah. Kebanyakan orang tua biasanya memberikan uang saku hanya untuk kebutuhan jajan anak di sekolah, ketika anak sudah berada di rumah, atau sudah bertemu orang tuanya anak dapat minta uang tambahan untuk membeli sesuatu yang dia inginkan. Pemberian uang saku seperti ini memang sudah mengajarkan tanggung jawab pada anak, namun tentunya tanggung jawabnya jauh lebih kecil dibandingkan anak yang diberi tanggung jawab uang saku selama satu minggu penuh dan mencakup semua kebutuhannya.
3.    Jumlah uang saku harus cukup, jangan sampai berlebih, karena hal ini membuat anak akan menggunakan uang tanpa berpikir terlebih dahulu, namun jangan sampai kurang, karena ini akan membuat anak merasa stress. Penentuan uang saku ini dapat dilakukan dengan menghitung rata-rata pengeluaran anak setiap harinya dari mulai uang jajan saat di sekolah, dirumah, sampai kebiasaan anak membeli barang-barang lainnya (alat tulis sekolah, buku bacaan, ataupun mainan). Orang tua juga perlu cermat dalam menghitung kebutuhan sehari-hari anak, jangan sampai anak menjadi terbiasa membeli barang-barang yang sebenarnya kurang dibutuhkan, dan akhirnya menjadi boros. Oleh karena itu, saat menghitung pengeluaran anak sehari-hari, orang tua hendaknya mencoret beberapa pengeluaran yang kurang penting. Untuk anak yang sudah lebih besar (usia 10 tahun keatas), penentuan jumlah uang saku juga dapat dilakukan dengan mendiskusikannya dengan anak. Anak diminta untuk menentuan berapa uang saku yang dibutuhkannya, tentunya dengan menyertakan alasan atau rincian kebutuhannya. Sedangkan orang tua tetap bertugas untuk menilai hal-hal apa saja yang memang menjadi kebutuhan anak.
4.       Lantas bagaimana jika suatu saat anak ingin membeli suatu barang yang harganya lebih dari uang saku anak? Jika memang barang yang ingin dibeli bukan kebutuhan yang mendesak, maka inilah kesempatan orang tua memotivasi anak untuk belajar berhemat dan menabung untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Orang tua juga bisa memacu anak untuk belajar berwirausaha sederhana untuk mendapatkan tambahan uang yang dia inginkan, seperti berjualan es lilin/puding di depan rumah, atau beternak hewan. Waah…menarik bukan?? Pembahasan lebih lanjut mengenai wirausaha ini akan kita bahas lebih dalam pada edisi “Menanamkan Jiwa Enterpreneur pada Anak”. Selamat Mencoba ayah dan bunda....Salam Hangat Untuk Kapten Cilik di rumah!

Erika Hapsari, S.Psi
Kapten Cilik : Lead The Little Hero!

0 komentar:

Posting Komentar