Uang saku ternyata bukan hanya
membuat anak merasa kenyang, namun juga membuat anak dapat belajar bertanggung
jawab. Melalui uang saku anak akan belajar mengukur kemampuan dengan
menyesuaikan antara uang yang ada dengan barang yang ingin dipenuhinya,
selanjutnya anak akan belajar mengatur prioritas, dan membeli sesuatu yang
memang benar-benar dibutuhkan saja, disinilah saat dimana anak dapat belajar
untuk bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, apa yang dimilikinya, dan apa
yang menjadi pilihannya. Hmm…ternyata banyak hal dapat dipelajari anak melalui
uang saku, lantas bagaimana caranya agar kita bisa memberikan uang saku dengan
tepat pada anak? Berikut beberapa tips yang bisa diikuti :
1.
Atur periode pemberian uang saku dengan
konsisten (bisa perhari, perminggu, perduaminggu, atau perbulan). Sesuaikan
dengan usia anak, semakin besar anak akan semakin bagus jika periode pemberian
uang saku lebih panjang.
2.
Uang saku yang diberikan akan lebih baik jika
mencakup semua kebutuhan anak, baik di sekolah maupun di rumah. Kebanyakan
orang tua biasanya memberikan uang saku hanya untuk kebutuhan jajan anak di
sekolah, ketika anak sudah berada di rumah, atau sudah bertemu orang tuanya
anak dapat minta uang tambahan untuk membeli sesuatu yang dia inginkan.
Pemberian uang saku seperti ini memang sudah mengajarkan tanggung jawab pada
anak, namun tentunya tanggung jawabnya jauh lebih kecil dibandingkan anak yang
diberi tanggung jawab uang saku selama satu minggu penuh dan mencakup semua
kebutuhannya.
3. Jumlah uang saku harus cukup, jangan sampai
berlebih, karena hal ini membuat anak akan menggunakan uang tanpa berpikir
terlebih dahulu, namun jangan sampai kurang, karena ini akan membuat anak
merasa stress. Penentuan uang saku ini dapat dilakukan dengan menghitung
rata-rata pengeluaran anak setiap harinya dari mulai uang jajan saat di
sekolah, dirumah, sampai kebiasaan anak membeli barang-barang lainnya (alat
tulis sekolah, buku bacaan, ataupun mainan). Orang tua juga perlu cermat dalam
menghitung kebutuhan sehari-hari anak, jangan sampai anak menjadi terbiasa
membeli barang-barang yang sebenarnya kurang dibutuhkan, dan akhirnya menjadi
boros. Oleh karena itu, saat menghitung pengeluaran anak sehari-hari, orang tua
hendaknya mencoret beberapa pengeluaran yang kurang penting. Untuk anak yang
sudah lebih besar (usia 10 tahun keatas), penentuan jumlah uang saku juga dapat
dilakukan dengan mendiskusikannya dengan anak. Anak diminta untuk menentuan
berapa uang saku yang dibutuhkannya, tentunya dengan menyertakan alasan atau
rincian kebutuhannya. Sedangkan orang tua tetap bertugas untuk menilai hal-hal
apa saja yang memang menjadi kebutuhan anak.
4.
Lantas bagaimana jika suatu saat anak ingin
membeli suatu barang yang harganya lebih dari uang saku anak? Jika memang
barang yang ingin dibeli bukan kebutuhan yang mendesak, maka inilah kesempatan
orang tua memotivasi anak untuk belajar berhemat dan menabung untuk mendapatkan
apa yang dia inginkan. Orang tua juga bisa memacu anak untuk belajar
berwirausaha sederhana untuk mendapatkan tambahan uang yang dia inginkan,
seperti berjualan es lilin/puding di depan rumah, atau beternak hewan.
Waah…menarik bukan?? Pembahasan lebih lanjut mengenai wirausaha ini akan kita
bahas lebih dalam pada edisi “Menanamkan Jiwa Enterpreneur pada Anak”. Selamat Mencoba ayah dan bunda....Salam Hangat Untuk Kapten Cilik di rumah!




0 komentar:
Posting Komentar